Kamu Hari ini adalah Kamu di Masa Depan

hand1

malam ini saya hampir saja melewatkan rutinitas baru yang akan saya tekuni. yaitu, satu tulisan sebelum tidur. memangnya seharian kita tidak dapat apa-apa, sehingga kita lewatkan begitu saja tanpa nilai-nilai dan pelajaran yang membekas dari yang kita lalui. sia sia dong waktumu hari ini.

manusia itu tergantung waktunya. hilang waktunya, hilang juga kehidupannya. kira -kira seperti itu yang pernah di katakan oleh ulama terdahulu. karna memang waktu kita disaat ini menentukan diri kita yang akan datang. hari ini engkau belajar kau akan mulia. hari ini berlatih besok mahir. hari malas besok menyesal. jadi ada keterkaitan masa ini dengan masa depan. siapa kamu hari ini akan menjadi seperti itulah besok. walaupun di esok hari tidak dapat semua yang engkau usahakan, paig tidak kau tidak akan menyesal dan rapuh karna selama ini sudah berusaha.

dalam bersungguh -sungguh ada sebuah hadits dari rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang menjadi anjuran dan juga kiat dalam bersungguh-sungguh. kita simak haditsnya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”

(HR. Muslim)

[Muslim: 47-Kitab Al Qodar, An Nawawi –rahimahullah- membawakan hadits ini dalam Bab “Iman dan Tunduk pada Takdir”]

dari hadits ini kita mendapat pelajaran yang pertama

  1. Bahwa orang beriman yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh allah dari orang beriman yang lemah. baik itu kuat fisiknya, kuat akalnya, kuat mentalnya, kuat finansialnya. tapi yang paling penting adalah kuat imannya dengan lebih perhatian dan giat dalam perkara yang menguatkan iman di dada kita. dan ini juga menjadi patokan utama atau starting poin dari melihat kuatnya seseorang. kuat badannya namun tak jumatan lebih baik yang lemah maupun yang kurang tapi hadir jumaatan. imanlah yang menjadi ukuran utamanya.
  2. kalau perkara itu jelas manfaat maka tekuni. segera kita list hal-hal yang kita anggap manfaat untuk hari esok kemudian tekuni dan sabar dalam menjalaninya. juga dengan makna lain hal-hal yang sedikit manfaatnya ataupun malah gk ada, ya gak usah ngotot untuk ngerjainnya seperti bikin dubsmash, selfie-selfie alay dll you now lah.
  3. jika planing kita gagal atau ekspektasi kita gak tercapai jangan menyalahkan sana-sani dan kemudian mencari kambing hitam. karna semua sudah allah takdirkan. baik setiap apa yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. kita hanya berencana tapi allahlah yang menetukan. kalau sudah tau begitu lega kita, berarti ini semua terjadi tidak lain merupakan rencana allah bagi kita dan tentunya akan ada yang lebih baik. kan allah yang menciptakan kita jadi allah taulah  yang lebih baik untuk kita. dan juga kalau kita meng andai-andai  dalam hadits disebutkan akan membuka pintu-pintu syetan untuk membisiki kita. muncullah perasaa putus asa dan muncullah perkataan yang paling banyak dibilang sama abg labil “Tuhan gak adil”                                                                                                                              memang benar kita jangan sampai melupakan evalusai. karna evalusia merupakan bagian dari perencanaan agar startegi kita lebih tajam dan efektif. kemudian juga agar menghindari kegagalan yang pernah dirasakan. ada sebuah perkataan bijak “belajarlah kesalahan dari orang lain karna umur kita tidak akan cukup untuk merasakan semua kesalahan”.  demikianlah untuk malam ini, semoga tulisan ini bisa menjadi salah satu argumen saya ketika nanti ditanyakan oleh allah ” engkau pergunakan apa umurmu?.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s