Aku Mengambang

image

Perjalananku dari kota-kota, dari pesantren ke pesantren, bertemu banyak orang dengn berbagai latarbelakang, semua membuatku terpontang panting. Jenuh, bisa dikatakan seperti itu.

Kenapa jenuh? Dari sekian hari yang telah aku alami. Semuanya tidak ada dalam tahapan meraih suatu tujuan. Jikapun aku tetapkan suatu tujuan, tujuan itu menguap kemudian dilupakan karna sibuk dengan hal yang menggiurkan namun ternyata memusnahkan.

Saat pertama kali aku datang ke malang dengan beribu-ribu pertanyaan. Aku datang sebagai orang asing. Dan keterasingan ini membuatku menjadi orang yang berbeda dalam hitungan hari. Aku menjadi lebih pendiam, lebih menjadi passif dan yang paling terniang saat keadaan asing ini aku merasa imanku memuncak kemudian membuahkan nilai-nilai kehidupan yang bermakna. Kalau bisa dikatakan saat itu fitrohku sedang memuncak di permukaan. Ibadah terasa ringan, pikiran jernih dan emosipun tertata.

Hidup penuh pasang surut dengan segala masalah dan konflik. Aku tidak sadar bahwa keadaan nyaman seperti ini aka nada benturan – benturan yang allah siapkan untuk naik kelevel dan derajat selanjutnya. Allah rancangkan beberapa cobaan dan masalah sehingga terlihat kita tetap berada pada permukaan iman saat semua masalah itu datang atau keiman kita hanya palsu dan rapuh. sehingga sedikit saja terkena benturan maka dia akan retak ataupun sampai hancur berkeping-keping tak tersisakan.
Waktu itu aku tak sadar dari setiap kemudahan tentu ada tahapan-tahapan kesulitan. Karna dengan adanya kesulitan kau benar-benar merasakan nikmatnya. Ibarat secangkir kopi di saat hujan lebat, kau tak akan merasakan nikmat dan hangatnya kopi tanpa dinginnya suasana hujan.
Dan dari situ aku belajar, bahwa iman dalam hati tidak akan selamanya stagnan. Selalu ada pasang surut yang akan selalu kau lalui dalam penyempurnaan iman sampai akhir batasnya yaitu kematian. Dan keiman yang selama ini ada kita pertanggung jawabkan setelah itu.

Dan saat itu aku juga belajar, setiap manusia harus mempunyai tujuan disetiap langkahnya. Bukan menjadi bui-buih di lautan yang tak jelas eksistensinya selalu dihempaskan dan digiring oleh ombak. Aku tidak mau hanya jadi kapal yang selalu berlayar dan terus menerjang ombak namun tak tau dimana dia harus berlabuh.
Selamat pagi impian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s