Selangkangan Biawak

oleh : Anni Soetardjo

Tulisan ini dibuat hanya berdasarkan dua kata status seorang tetangga fesbuk, “selangkangan biawak”. Aku pikir tulisan yang membahas selangkangan sudah cukup banjir di media dan sudah mem-bah di alam-alam batin kita, baik berupa fantasi, angan, perenungan, mimpi buruk dan sebangsanya. Dan tentu saja untuk mempertahankan citra tukang tulis serampangan dan sakkarrep udelku, aku menabukan diri untuk mencari data ilmiah atau tulisan pembanding serupa. Biar kacau, biar meracau: pecahkan saja tekonya!—pyaaarrrr…

Jadi mari bicara selangkangan, dan mari bicara biawak dari apa yang bisa kita temukan di jalan jemari, sedapatnya-sekenanya. Namun sebelumnya sterilkan dulu daerah-daerah mesum dalam otak kita, sebab perjalanan menulis ini semoga untuk kabenaran dan kebaikan.

 

Selangkangan, kalau aku tak salah mengingat daerah yang bertulang juga: tulang selangka. Dan seperti mulut yang bertulang rahang, di daerah keduanya ada aset yang harus dijaga untuk pemulyaan jenis manusia: lidah dan farji.

Sumber fitnah dan peperangan. Sumber kenikmatan yang jika tanpa iman dan pengendalian diri jamak diumbar tanpa kekang—dengan lancang dan jalang.

Lalu kita tunduk sepatuh-patuhnya pada pemeo “diam itu emas” bahkan ketika dibutuhkan untuk tak diam kita menjadikan ke-emas-annya sebagai tameng suci mengatup seribu basa, dan pada sementara kalangan menafikan nafsu sama sekali, hidup selibat, tak melibat diri pada pemuasannya bahkan dalam sarana yang halal dan dicintai.

***

 

Fitrah manusia adalah meneruskan keturunan, bukan kesampingan. Mungkin awalnya kita puas dengan melihat keponakan yang imut-imut mirip Andre dan Sule tapi setelah itu, jika kita normal setidaknya sekali sebulan saat gajian mungkin ada dari kita yang tiba-tiba ingin beli popok.

Hey, tak melulu beli rokok kan?

 

Bukan hanya otakmu yang brilian, bukan cuma keningmu yang turun naik bersujud dalam khusyu’, bukan cuma lidahmu yang lugas-cerdas dan bernas, bukan cuma gerak tubuhmu yang santun-anggun akan tetapi, Saudaraku, selangkangan adalah satu episentrum dari inti keimananmu pula.

Ingak: tiiiiing!—agama ini bukan hanya tentang mengerjakan namun juga tentang menahan dan mencegah.

Jika kau sedang berada dalam kesendirian, maka diammu yang demi menahan diri dari maksiat, yang muaranya karena mencari ridha Allah dan kau takut akan siksaNya adalah ibadah juga, Saudaraku. Bukanlah pemberani itu yang mampu mengencani selusin wanita dalam seminggu. Bukan pejantan itu yang sedia menjanjikan mimpi pada sekandang betina…(eembbeekkk!). Bukanlah hebat itu yang berkelebat setiap malam dari pintu ke pintu, Casanova tukang obat kutil. Tapi dia yang menjaga kehormatan dirinya dan kehormatan orang yang dipilihnya untuk menjadi tambatan hati. Pathnernya mengejar dan menikmati surga dunia akhirat.

Jika kau telah siap, mulyakan selangkanganmu dengan mitsaqon gholidho, janji akad yang mengijabnya halal untukmu di hadapan Allah dan seluruh penduduk langit dan bumi. Jika belum, maka kencangkan lagi katupnya, dan jauhi semua yang akan mengoyakkan maruah itu.

Sebab kita umat yang terbimbing dalam manhaj yang menyebutkan bahwa pernikahan itu “min sunnatiy”, kata baginda. Yang melarang tabattul alias melajang demi alasan tak syar’i.

***

Kecuali kita ingin mengikuti manhaj lainnya lalu syibron bi syibrin—dziraa’an bi dziraa’in, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta masuk ke lubang biawak. Dengan khalwat tak terjaga, dengan pacaran enam sampai sembilan tahun dulu (ih, kok kayak wajib belajar sih?!), dengan acara-acara pedekate banyak sarat dan sedikit sekat.

Biawak itu ya semacam kakaknya kadal tapi masih adiknya komodo. Kesamaan diantara mereka bertiga: suka melet-melet. Suka menjulurkan lidah dan tentu saja sejenis reptil. Kalau dipikir-pikir itu kan semacam sinyal juga bahwa kita sedang “dibuju’i” untuk mengikuti mereka masuk lubang. Lalu setelah masuk, mereka bakal tambah melet-melet, dan melototin siapa yang jatuh itu sambil mencibir: “Kapok! Makanya kalau Nabi ngomong itu didengerin terus dikerjain…!”

(dialog biawak di atas hanya ilustrasi semata tanpa ada penelitian khusus tentang bahasa biawak—red.)

 

Akhirul kalam, Saudaraku, baiknya kita menjaga selangkangan kita sendiri dengan sekuat-kuatnya kemampuan diri daripada numpang di selangkangan biawak. Ingatlah, dari selangkanganmu dan selangkangan istrimu, nantinya akan lahir generasi penerus anti pengikut biawak.

: ttttiiiiiiiiingg!

 

From 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s