Pembodohan

Abu Rambo

Salah satu cerita diantara sekian ribu cerita serupa yang merupakan upaya sadar ga sadar adalah pembodohan masyarakat

Gw ga tau bener ga sang Kyai tersebut melakukan hal-hal demikian, Bisa jadi malah ga dan beliau cuma jadi korban cerita bohong
Yang gw kritik cuma dongeng macam ini penuh tindakan pembenaran pada kemaksiatan karena pelakunya (Disini diceritakan seorang anak kyai) adalah WaliUllah :

Karomah Waliullah KH. Fulan (Gus Ur)

Anak seorang ulama besar di Ploso, Mojo, Kediri, Jawa timur. Pendiri sema’an alquran dan jamaah Ghaafiliin
Sejak kecil beliau sudah memiliki keanehan-keanehan :

– Sering pergi dari rumah sampai ayahnya menganggap putranya hilang
– Di pesantren, Gus Ur jarang sekali ikut pengajian tapi anehnya itu semua tidak membuatnya ketinggalan pemahaman tentang agama (kitab kuning) bahkan jauh lebih paham dibanding santri-santri yang setiap hari hadir
– Suatu ketika Gus Ur pergi ke diskotik dan disana mengambil sebotol minuman keras lalu memasukkannya ke mulut
Salah satu dari mereka bertanya :
”Gus kenapa sampeyan ikut minum bersama kami ? Sampeyankan tahu ini haram ?!”
Gus Ur menjawab :
“Aku tidak meminumnya ! Aku hanya membuangnya kelaut !”
Hal ini membuat mereka heran karena sudah jelas tadi Gus Ur minum.
Ditengah keheranan itu Gus Ur angkat bicara :
“Sampeyan semua ga percaya kalo aku tidak meminumnya tapi membuangnya kelaut ?!”
Gus Ur kemudian membuka lebar mulutnya dan mereka semua terperanjat kaget didalam mulut Gus Ur terlihat laut yang bergelombang dan ternyata benar minuman keras tersebut dibuang kelaut. Dan saat itu juga mereka diberi hidayah oleh Allah untuk bertaubat

# Bantahan dari gw :
Ini pan cerita orang lagi mabok, Bisa aja si Gus lagi mabok jadi jawabnya sambil teler “Gw buang ke laut ne miras !”
Terus yang lain itu juga pada teler, Liat laut di mulutnya si Gus padahal cuma jigong bau bangke !

Gimana bisa kesaksian orang mabok dipercaya ?! Jangankan cuma laut, “Ngeliat Allah” aja kalo lagi mabok mah bisa aja lha wong namanya juga otaknya ilang !

Lagian kalo bener tu cerita, Ngapain juga si Gus ikut-ikutan nenggak ? Ga ada bung ceritanya sepanjang sejarah Ulama nenggak demi ngedakwahin orang ! Itu mah si Gus nya aja kali emang demen teler terus ngibulin para pengikutnya !

– Jika sedang jalan-jalan atau keluar Gus Ur sering kali mengenakan celana jeans dan kaos oblong. Tidak lupa beliau selalu mengenakan kaca mata hitam lantaran lantaran beliau sering menangis jika melihat seseorang yang “masa depannya” suram dan tak beruntung di akherat kelak

# Bantahan dari gw :
Nyama-nyamain Nabi ne orang ! Bisa liat takdir ?! Padahal ne Gus Ur tukang mabok, Doyan ngudud, Nepokin pelacur, Jago maen judi, Dsb !

– Niac di pelabuhan Tanjung Mas adalah surga judi bagi para cukong-cukong besar baik dari pribumi maupun keturunan. Gus Ur yang masuk dengan segala kelebihannya mampu memenangi setiap permainan, Sehingga para cukong itu mengalami kekalahan yang sangat besar. Niac yang semula menjadi surga judi menjadi neraka yang sangat menakutkan

# Bantahan dari gw :
Tu kan udah gw bilang ne Gus jago judi ?! Masa yang begini bisa nyamain Nabi dikasih liat takdir orang ?!

– Ketika tiba di sebuah club malam Gus Ur masuk kedalam club yang di penuhi dengan perempuan nakal lalu Gus Ur langsung menuju Waitters (pelayan minuman). Beliau menepuk pundak perempuan tersebut sambil meniupkan asap rokok tepat di wajahnya, Perempuan itupun mundur tapi terus di kejar oleh Gus Ur sambil tetap meniupkan asap rokok diwajah perempuan tersebut. Perempuan tersebut mundur hingga terbaring di kamar dengan penuh ketakutan. Setelah kejadian tersebut perempuan itu tidak tampak lagi di club malam itu

# Bantahan dari gw :
Modus ini mah, Niupin asep udud sampe tu harim ngejengkang ngangkang dikamar
Kalo udah gini gimana lagi ? Didakwahin tu harim yang udah open bar ?
Hahahahaha…

– Gus Farid (anak KH.Ahmad Siddiq yang sering menemani Gus Ur) mengajukan pertanyaan tentang bagaimana perasaan Gus Ur pada wanita. Jawab Gus Ur :
“Aku setiap kali bertemu wanita walaupun secantik apapun, Dia dalam pandangan mataku yang terlihat hanya darah dan tulang saja jadi jalan untuk syahwat tidak ada”

– Pertanyaan kedua Gus Farid soal kebiasaan Gus Ur memakai kaca mata hitam baik itu dijalan maupun saat bertemu dengan tamu. Dijawab lagi :
”Apabila aku bertemu orang dijalan atau tamu aku diberi pengetahuan tentang perjalanan hidupnya sampai mati. Apabila aku bertemu dengan seseorang yang nasibnya buruk maka aku menangis, Maka aku memakai kaca mata hitam agar orang tidak tahu bahwa aku sedang menangis“

# Kesimpulan dari gw :
Abis baca ne cerita gw inget pengalaman nanganin anak-anak pecandu narkoba yang pinter ngibul dan punya banyak cara berkamuflase biar ga ketauan dia pakau, Misal pake baju tangan panjang buat nutupin bekas sayatan-sayatan silet, Pake kacamata item nutupin bekas merah dimata yang sering berair karena tiap hari madat, Hebat ngarang cerita muter-muter aneh-aneh, Dsb
Dan orang-orang macam ini di masyarakat kita, Hanya karena dia hafal Al-Qur’an, Punya majelis dzikir, Anak kyai, Kemudian diangkat jadi WaliUllah ?!

Lagian soal majelis dzikir ini ga jaminan, Gw punya temen ba’alwi, Abangnya mimpin jamaah besar di Jakarta, Dia sendiri punya majelis yang lain dari kakaknya, Tapi kalo nginep dirumah gw jarang solat !

Kebodohan bangsa salah satunya disebabkan hal-hal macam ini, Maka WaliUllah lokal mah dimata gw ga ada harganya apalagi kalo cuma modal dongeng n majelis ini itu 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s